Tuesday, September 8, 2009

Takdir

Takdir.....
Ya, takdir. .

Takdir menentukan jalan hidup manusia.
Dalam konteks kehidupan gue, gue telah mengalami banyak takdir, baik yang bersifat postif maupun negatif.

Sebagai contoh, memang sudah takdir gue untuk masuk sma 68, tidak sma 8 maupun 81 begitu juga 61 dan 28, walaupun nem gue waktu itu mencukupi untuk masuk sma-sma tersebut.
Maaf, bukannya mau nyombong, tapi emang beneran.

Takdir gue pertama kali masuk 68 adalah masuk kelas X-1. Itu sudah menjadi takdir gue untuk berteman dengan para penghuni X-1. Gue ambil contoh Alfa Surya Perdhana yang biasa dipanggil Alfa (kbetulan namanya blom muncul di blog gue), sudah takdirnya untuk menjadi ketua kelas X-1.
Tapi takdir juga bisa berubah.
Alfa yang sekarang menjadi ketua OSIS, itu juga merupakan takdir, tapi andai kata dulu dia memutuskan untuk tidak mengikuti OSIS, maka dia sudah merubah takdirnya.

Juga sudah takdir gue untuk masuk IPA, tapi ini bukan merupakan takdir yang sudah ditentukan dari awal, melainkan takdir yang terbentuk akibat dari yang gue lakukan sewaktu kelas X, seperti berhasil untuk tidak remed pelajaran IPA, mengerjakan tugas-tugas, dan lain sebagainya.

Di kelas XI, juga sudah takdir yang ditentukan buat gue untuk duduk sebangku dengan Temmy. Hal ini dikarenakan gue dateng telat. Tapi andaikata waktu itu gue mencoba untuk tidak datang telat, gue bisa merubah takdir gue waktu itu. Tapi bukan berarti gue duduk dengan Temmy adalah takdir negatif.

Takdir lainnya adalah masalah pertemanan. Gue bisa berteman bahkan bersahabat dengan orang-orang macam Ihsan, Mail, Emir, Rera, Nr, Nurul, Ipeh, Ririn, Aya, dll karena takdir yang telah menempatkan gue untuk duduk di kelas XI IPA 2 dan dapat bertemu dengan orang-orang seperti mereka.
Tapi itu semua tidak terlepas dari usaha-usaha gue untuk mencoba berinteraksi dengan mereka dan mencoba untuk menjadi teman yang terbaik untuk mereka.
Andaikata gue hanya bertemu dengan Ipeh, kemudian jarang ngobrol dengannya, maka tentu saja dia tidak akan menjadi sohib gue, melainkan menjadi teman atau kawan pada umumnya saja.

Salah satu pembuka kunci takdir gue itu adalah Nurul. Kenapa begitu? Ya, dapat dikatakan berkat dialah gue bisa mempererat hubungan pertemanan gue dengan Emir, Mail, Ipeh, dan Sasa.
Nurul duduk sebelah Emir, di depan Nurul ada Mail, di belakang Nurul ada Ipeh dan Sasa. Gue duduk sblah Temmy, dan di depan kami ada NR dan Aya. Nah, Nurul suka numpang di tempat gue untuk makan bekal bareng Nr dan Aya, yang mengakibatkan gue duduk sebelah Emir, dan biasanya berkelanjutan hingga bel pulang. Mungkin itu salah satu faktor mengapa Emir Mail Ipeh dan Sasa menjadi sohib gue, dan ini tidak terlepas dari takdir.
Contoh lain adalah Ririn, yang ternyata rumahnya juga di Cijantung, yang membuat gue bisa balik bareng dia, melakukan perjalanan pulang naik transjakarta.


Tetapi di saat naik kelas, tidak mungkin kami semua dapat sekelas lagi, hanya kemungkinan kecil saja. Dan di antara kemungkinan kecil tersebut, 2 sohib gue yaitu Ihsan dan Rera, mendapat kelas yang sama dengan gue, dan ini juga merupakan takdir untuk gue.

Di kelas XII IPA 4, yang berisi anak-anak dewa semua, memang sudah takdir gue berada di kelas itu untuk bersaing dengan para dewa.
Dengan keterlambatan gue datang saat tahun ajaran baru di kelas XII, takdir memutuskan gue untuk duduk di belakang, dan sudah takdir untuk menjadi teman dekat dengan teman di belakang seperti Dimas Imam Ariefianto, Christian Natalie, Vanya Wilhelmina, Risha Emyta, Khairu Nuzula, dan yang lain.
Andaikata gue tidak datang terlambat, mungkin takdir berkata lain, yang membuat gue harus duduk di tengah atau di depan, tentu saja dengan suasana dan teman belajar yang berbeda. Mungkin gue bisa lebih dekat dengan Fakhrul, Ralf, Arsal, Melly, Hida, Neila, Tika, Anggi, dan Bela jika gue duduk di barisan tengah.
Tapi semua itu sudah ditakdirkan buat gue. Dan yang menentukan hanya Allah SWT, yang dapat gue rubah jika gue berusaha.
Untuk sementara, gue senang dengan takdir yang sudah gue jalani hingga kini. Bertemu dengan teman" yang unik, bersahabat dengan banyak teman baik dari satu kelas maupun beda kelas.
Terima kasih ya Allah atas apa yang sudah kau takdirkan pada ku.
Jika boleh minta, buatlah takdir saya untuk melanjutkan kuliah di Tehknik Perminyakan ITB, kemudian sukses, dan menikah dengan wanita yang baik cantik dan pintar, kalau bisa ya yang lagi saya incer itu, hehe....


Udah ah, daritadi bahasanya sok-sok an.
Cabut yah.

2 comments: